Iklan sponsor resmi:

Iklan bisnis dan panduan usaha:

silahkan masuk untuk melihat karakter jiwa bisnismu...!!

I'rob & Tafsir QS. Al-Fatihah-6


I’rob dan tafsir ayat ke-6

IHDINAA : Fiil Amr (Du’a) mabni atas hadzfu harfi ‘illah (huruf ‘illah yang dibuang) diakhirnya, yaitu huruf; “ya”. Buktinya adalah tanda kasrah. Dan fail (subjek)nya adalah dhamir yag tersembunyi, waib takdirnya adalah “anta (kamu)”. Dan dhamir “NAA “ (kami); adalah shamir (kata ganti) yang bersambung dengan fiil (pekerja), keadaannya tetap dalam sukun menempati tempat nasab berkedudukan menjadi maf’ul bih. (objek).

Maknanya: “tunjukilah kami oleh-Mu”

ASH-SHIRAATHO : maf’ul bih kedua yang mansub, tanda nasabnya adalah fathah yang nampak jelas.

Ada yang mengatakan; mansub binaz’il khofdhi. Takdirnya: “Tunjukilah kami oleh-Mu kepada jalan.”

AL-MUSTAQIIMA : sifat dari “Ash-Shirat” mansub. Tanda nasabnya adalah fathah yang nampak jelas di akhirnya.

Tafsir ayat ke-6

Tunjukilah kami pada jalan yang lurus


Ihdina (tunjukilah kami), dari kata hidayaat: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik. Sebagaimana Imam Al-Maraghi berkata: bahwa hidayah Allah kepada manusia terdapat bermacam-macam bentuk:

1. Hidayah dalam bentuk ilham. Hal ini dirasakan oleh anak kecil sejak ia dilahirkan. Seseorang anak akan merasa membutuhkan makanan dengan cara menangis sebagai pertanda.

2. Hidayah kepada panca indra. Macam hidayah ini sama-sama terdapat pada manusia dan hewan. Bahkan pada hewan lebih sempurna dibanding yang ada pada manusia. Sebab, ilham ilham dan panca indra ini akan lebih cepat tumbuh secara sempurna dalam waktu yang sangat singkat setelah kelahiran. Dan ini dirasakan manusia secara bertahap.

3. hidayah kepada akal. Hidayah ini lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan ilham dan panca indra. Secara naluriyah, manusia akan hidup bermasyarakat dengan yang lainnya, sedang ilham dan panca indranya tidak cukup untuk menjalankan hidup bermasyarakat. Karenanya manusia membutuhkan akal yang mampu mengoreksi segala kesalahan yang dilakukan oleh panca indra. Bukanlah orang yang melihat tongkat lurus di air akan terlihat bengkok di mata? Dan orang yang belum terbiasa merasakan sesuatu yang manis akan terasa pahit di lidahnya.

4. Hidayah berupa agama dan syari’at, hidayah ini merupakan kebutuhan mutlak bagi orang yang menganggap remeh akal pikirannya, mengikuti kemauan hawa nafsunya, menundukkan jiwa untuk menuruti kemauan syahwatnya. Ia lebih memilih jalan yang penuh dengan lumpur dosa dan berbagai kejahatan, barani berbuat dzhalim sekalipun terhadap kawannya sendiri, sehingga tercipta suasana saling menguasai dan bersaing secara tidak wajar antar sesama.


Dengan hidayah inilah manusia akan merasakan benar-benarnya menerima petunjuk. Jika akal pikirannya mampu mengalahkan kemauan hawa nafsunya, maka akan tampak di mata manusia batasan-batasan dan syari’at Allah. Kemudian ia akan berdiri di atas garis-garis batas tersebut, dan mengekang kemauannya dari batasan-batasan yang ada.


Rasulallah Saw. bersabda: “Allah Swt. telah memberikan perumpamaan dengan jalan yang lurus, dan dipinggir jalan itu terdapat dua tembok, pada dua tembok itu terdapat pintu-pintu yang terbuka, pada pintu-pintu itu terdapat tabir yang terurai. Pada (awal) pintu jalan itu terdapat seruan, dengan seruan: wahai manusia, masuklah kalian semuanya kedalam pintu ini dan janganlah kalian berpaling (belok). Dan (terdapat seruan pula) di atas jalan ketika manusia hendak membuka tabir yang menutupi pinti-pintu itu, dengan seruan: celaka kamu!! Janganlah kau buka (tabir yang menutup pintu-pintu itu), jika kau buka, maka kamu akan celaka. (ketahuilah) jalan itu adalah Islam, dua tembok itu adalah batasan-batasan Allah, dan pintu-pintu yang terbuka itu adalah Allah, dan pintu-pintu yang terbuka itu adalah apa-apa yang Allah haramkan. Dan yang menyeru (untuk masuk ke jalan yang lurus, itu adalah kitab Allah. Dan yang menyeru di atas jalan itu adalah Allah yang telah memberi nasihat pada setiap hati kaum muslimin” (Hr. Ahmad, Ibnu Katsir I:107)


Dalam ayat tadi sungguhpun jelas, bahwa yang dipinta itu adalah jalan yang lurus, sedangkan jalan yang lurus itu yaitu Islam. Allah Swt. berfirman:

Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.

Dan inilah jalan Tuhanmu; (jalan) yang lurus. Sesungguhnya kami Telah menjelaskan ayat-ayat (kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran.

Bagi mereka (disediakan) darussalam (syurga) pada sisi Tuhannya dan dialah pelindung mereka disebabkan amal-amal shaleh yang selalu mereka kerjakan. (Qs. Al-an’am: 125-127)

Kemudian Alloh memperjelas lagi dengan firmannya:

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam... (Qs. Ali Imran: 19)

Kemudian Allah memperjelas dan memberi penguat dari makna “shiratal mustaqim”, dengan firmannya:


Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (Qs. Al-An’am: 153)

Inilah yang disebut dengan kebenaran mutlak. Bahwa jalan yang lurus, jalan yang paling benar, jalan yang akan membawa keselamatan dan jalan yang diridhai Allah itu tiada lain adalah Islam.

Sungguhpun keliru bagi para pemikir liberal, yang mengaku dirinya sebagai umat Islam, namun memahami, meyakini dan menafsirkan ayat ini “Shiratal mustaqim” sebagai “mencari kebenaran dalam agama, ada kemungkinan jalan yang lurus itu pada agama Islam, ada kemungkinan jua pada agama kristen, ada kemungkinan jua pada agama yahudi dan sebagainya. Hakikatnya manusia masih mencari agama yang paling benar”. Inilah pemikiran yang harus di musnahkan, karna akan menhadi virus bagi umat manusia yang secara khususnya bagi kaum muslimin.


Allah Yang Maha Suci telah menjelaskan makna “siratal mustaqim” itu dengan menyebutkan hanya agama Islamlah yang paling benar. Selain Islam, agama apapun akan di tolak.

Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Qs. Ali Imran: 85)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar